Minggu, 19 Januari 2014

Ingin Sekolahkan Anak Hingga Sarjana, Lapak Es Dugan Harapan Desi

Bandarlampung (Lentera SL): Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses dalam berkarir, baik dibidang ilmu akademik maupun non akademik. Desi (35), sudah 3 tahun lebih berjualan Es Dugan dibahu jalanan Wayhalim, Bandarlampung. Ibu yang dikaruniai 2 anak ini, tidak lelah terus menjajakan dagangannya.
"Mau jualan apa lagi mas, wong bisanya jualanan es dugan, ini saja sudah bersyukur, yang penting halal mas untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak saya," Lirihnya sembari melayani pembeli, Minggu (19/1).

Siang itu, waktu menunjukan pukul 14.00 wib, cuacapun cukup terik dan panas membakar kulit desi, panas ancaman untuk sebagaian orang tetapi tidak untuk desi, panas adalah teman sejatinya, dalam benaknya bersuka, karena memang kondisi seperti inilah yang ia harapkannya.
"Ya alhamdulillahlah mas, kalo pas panas seperti ini yang saya harapkan, karena semakin banyak pembeli yang singgah kelapak saya. Biasanya kalo panas seperti ini, kelapa muda bisa terjual 20 sampai 30 gandeng, tetapi kalo hujan seharian pembeli bisa sepi
mas, paling banyak 3 sampai 5 gandeng kelapa muda, tapi tidak apa-apa saya maklumi orang kondisinya saja seperti ini," Ujar dia.

Walaupun demikian, tetapi ia tidak pernah berputus asa untuk menjalani kehidupan meskipun banyak cobaan yang kerap kali ia dapatkan. Keinginannya yang mulia, menjadi landasan utama yang diimpi-impikan dia. "Orang tua susah tidak apa-apa yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, kalau bisa sekolah hingga sarjana, agar nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik nantinya." Harapnya.

Topik (39), Suaminya sendiri hanyalah seorang pekerja kasar, yang mengandalkan pekerjaan seadanya ataupun serabutan. Tidak mempunyai pekerjaan tetap menjadi kendala bagi suami desi, pekerjaan apa saja ia lakoni demi menghidupi keluarganya, untuk membantu desi mewujutkan mimpinya menyekolahkan kedua anak-anaknya hingga perguruan tinggi. "Suami saya kerja serabutan, apa saja dikerjakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari." Ucap dia.

Demi keinginannya ini, ia rela menyisihkan sebagian pendapatan penjualannya ditabungkan untuk pendidikan anknya kelak. Tidak banyak yang bisa ia sisihkan hari itu, karena ia juga paham harus menyisihkan sisa pandapatannya untuk kehidupan sehari-hari.

Fajar Julianto (14) yang masih duduk dibangku kelas IX di SMP Negeri 26 Bandarlampung dan Ridho Artika (7) yang masih duduk di bangku SD Negeri Sepang Jaya Bandarlampung ini, terkadang sesekali menyempatkan waktunya, seusai pulang dari sekolah 
untuk membantu Ibunya berjualan. Mereka tidak pernah malu dengan status pekerjaan yang dimiliki Ibunya. Hal ini, yang membuat semangat desi semakin kuat untuk menjalani hidup. "Kalo sehabis pulang sekolah Fajar dan Ridho membantu saya berjualan es dugan, mereka bergantian membantu saya, kadang saya merasa kasihan dengan mereka, tetapi mau bagaimana lagi, wong sudah keinginan mereka untuk mebantu saya," papar dia.

Harapan desi yang tinggi menjadi untuk menyekololahkan kedua buah hati hingga perguruan tinggi, ia tekatkan bersama suaminya, agar kelak kehidupan anak-anaknya tidak seperti desi. (Septomo)
 JKN Bukan Solusi 

Bandarlampung (Lentera SL): Sejumlah pengunjuk rasa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 Lampung, melakukan aksi unjuk rasa di perempatan Tugu Adipura Bandarlampung. Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang diterbitkan oleh pemerintah sejak 1 Januari 2014 lalu.

Menurutnya, program yang baru berjalan setengah bulan ini, tidak sesuai dengan fungsi yang disebutkan saat program ini dilaunching.
"Ada motif lain yang melepaskan tanggngjawab sebuah negara atas kehidupan rakyat yang layak,"kata Saddam Cahyo selaku koordinator saat memberikan penyampaiannya kepada Lentera Swara Lampung, Kamis (16/1).

Dirinya mengatakan lebih lanjut, mengingat pada pembukaan UUD 1994 pasal 28 dan 34 yang mengamanatkan tentang fungsi negara sebagai perusahaan asuransi yang menjamin kehidupan rakyat yang berkualitas dan sejahtera. Keberadaan program BPJS dianggap belum mempunyai kesiapan dan persiapan dalam bentuk sarana dan prasarana, dan banyak penolakan dari rumah sakit.

 "BPJS belum siap dalam segi apapun. Banyak penolakan dari rumah sakit, baik dari pekerja kesehatan, penolakan dari pasien, dan lainnya. Semua ini hanyalah fatamorgana yang menyesatkan ditengah keterpurukan kondisi rakyat yang tidak stabil," tandasnya.

Ia meminta kepada Pemerintah Provinsi Lampung, agar secepatkan dapat mencabutnya BPJS dalam program pemerintah, karena menurutnya program ini hanya menguntungkan satu pihak saja.

Sebelumnya, Gerakan Nasional Pasal 33 UUD 1945 Lampung ini sudah melakukan aksi unjuk rasa di pemerintah pusat dan DPRD RI dengan menuntut perkara yang sama.
 "Kami rasa belum terlambat untuk mencabut UUD sistem kesehatan yang salah, Karena negara bukanlah menjadi perusahaan asuransi tetapi sebagai pelindung bagi rakyat," ungkapnya. (Septomo)




Bandarlampung (Lentera SL) - Puluhan Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) melakukan demo di depan Gedung Serba Guna (GSG) Lampung, Sabtu (18/01). Kali ini mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan UKM Koin Universitas Lampung, menolak kehadiran Ruhut Sitompul atau sering dipanggil Poltak ini. Ia hadir menjadi tamu undangan dalam acara, sosialisasi empat pilar kebangasaan yang digelar, Jendral TNI purn. Pramono Edhie Wibowo, kepada mahasiswa Universitas Lampung. Menurut, Julian, Mentri Kesejahteraan Masyarakat Universitas Lampung selah satu pendemo menjelaskan, kedatangan Ruhut Sitompul bersama kadernya menodai dan mengganggu karena membawa nuansa politik serta mengajarkan pembekalan politik yang tidak sehat. "Mereka melarang kami untuk mengikuti partai politik dan juga melarang mendatangkan tokoh-tokoh politik. Tetapi, beliau sendiri nyatanya mendatangkan tokoh politik dan kader-kadernyan" Tegas, Mahasiswa dari Fakultas Ekonomi ini. Diterangkan dengan dia, kedatangkan Ruhut beserta kader-kader dari Partai Demokrat sebenarnya tidak meresahkan dan mengganggunya, hanya saja dalam acara yang dimulai pukul 09.00 Wib ini, bernuansa dan berbau politik yang menyebabkan mahasiswa naik pitam. "Jika hanya empat pilar saja kami terima itu, tetapi di sini adanya pembekalan politik yang diberikan meraka. Tidak ada satu namapun partai dan mencantumkan bendera-bendera partai dikampus kami, kampus kami bukan untuk dijual dengan partai apapun," Lanjut dia. Ditemui terpisah, menaggapi demo yang dilakukan mahasiswannya. Menurutnya, bahwa pihaknya tidak berpolitik dan memberikan kesempatan yang sama kepada kader-kader partai yang lainnya, yang juga berorasi dan memberika kuliah umum kepada mahasiswanya. "Kami tidak berpolitik, kami tidak mendukung siapapun dan kampus bersifat netral. Waktu lalu kami kehadiran tokoh politik, ada Irman Gisman, Wiranto, dan lainnya kok mereka tidak demo, dan mereka tidak ada satupun membawa bendera partai, disini mereka kurang memahaminya," Ujar ia. Dengan aksi demo yang dilalukan ini, diharapkan agar tidak ada lagi partai yang masuk didalam kampusnya. "Langkah kedepan, kami bersama-sama akan menyampaikan aspirasi dan tuntutan kami ke rektor, agar kedepannya tidak ada lagi acara semacam ini yang masuk di kampus kami," Harapnya. (Septomo)