Ingin Sekolahkan Anak Hingga Sarjana, Lapak Es Dugan Harapan Desi
Bandarlampung (Lentera SL): Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses dalam berkarir, baik dibidang ilmu akademik maupun non akademik. Desi (35), sudah 3 tahun lebih berjualan Es Dugan dibahu jalanan Wayhalim, Bandarlampung. Ibu yang dikaruniai 2 anak ini, tidak lelah terus menjajakan dagangannya.
"Mau jualan apa lagi mas, wong bisanya jualanan es dugan, ini saja sudah bersyukur, yang penting halal mas untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak saya," Lirihnya sembari melayani pembeli, Minggu (19/1).
Siang itu, waktu menunjukan pukul 14.00 wib, cuacapun cukup terik dan panas membakar kulit desi, panas ancaman untuk sebagaian orang tetapi tidak untuk desi, panas adalah teman sejatinya, dalam benaknya bersuka, karena memang kondisi seperti inilah yang ia harapkannya.
"Ya alhamdulillahlah mas, kalo pas panas seperti ini yang saya harapkan, karena semakin banyak pembeli yang singgah kelapak saya. Biasanya kalo panas seperti ini, kelapa muda bisa terjual 20 sampai 30 gandeng, tetapi kalo hujan seharian pembeli bisa sepi
mas, paling banyak 3 sampai 5 gandeng kelapa muda, tapi tidak apa-apa saya maklumi orang kondisinya saja seperti ini," Ujar dia.
Walaupun demikian, tetapi ia tidak pernah berputus asa untuk menjalani kehidupan meskipun banyak cobaan yang kerap kali ia dapatkan. Keinginannya yang mulia, menjadi landasan utama yang diimpi-impikan dia. "Orang tua susah tidak apa-apa yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, kalau bisa sekolah hingga sarjana, agar nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik nantinya." Harapnya.
Topik (39), Suaminya sendiri hanyalah seorang pekerja kasar, yang mengandalkan pekerjaan seadanya ataupun serabutan. Tidak mempunyai pekerjaan tetap menjadi kendala bagi suami desi, pekerjaan apa saja ia lakoni demi menghidupi keluarganya, untuk membantu desi mewujutkan mimpinya menyekolahkan kedua anak-anaknya hingga perguruan tinggi. "Suami saya kerja serabutan, apa saja dikerjakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari." Ucap dia.
Demi keinginannya ini, ia rela menyisihkan sebagian pendapatan penjualannya ditabungkan untuk pendidikan anknya kelak. Tidak banyak yang bisa ia sisihkan hari itu, karena ia juga paham harus menyisihkan sisa pandapatannya untuk kehidupan sehari-hari.
Fajar Julianto (14) yang masih duduk dibangku kelas IX di SMP Negeri 26 Bandarlampung dan Ridho Artika (7) yang masih duduk di bangku SD Negeri Sepang Jaya Bandarlampung ini, terkadang sesekali menyempatkan waktunya, seusai pulang dari sekolah
untuk membantu Ibunya berjualan. Mereka tidak pernah malu dengan status pekerjaan yang dimiliki Ibunya. Hal ini, yang membuat semangat desi semakin kuat untuk menjalani hidup. "Kalo sehabis pulang sekolah Fajar dan Ridho membantu saya berjualan es dugan, mereka bergantian membantu saya, kadang saya merasa kasihan dengan mereka, tetapi mau bagaimana lagi, wong sudah keinginan mereka untuk mebantu saya," papar dia.
Harapan desi yang tinggi menjadi untuk menyekololahkan kedua buah hati hingga perguruan tinggi, ia tekatkan bersama suaminya, agar kelak kehidupan anak-anaknya tidak seperti desi. (Septomo)
"Mau jualan apa lagi mas, wong bisanya jualanan es dugan, ini saja sudah bersyukur, yang penting halal mas untuk menghidupi dan menyekolahkan anak-anak saya," Lirihnya sembari melayani pembeli, Minggu (19/1).
Siang itu, waktu menunjukan pukul 14.00 wib, cuacapun cukup terik dan panas membakar kulit desi, panas ancaman untuk sebagaian orang tetapi tidak untuk desi, panas adalah teman sejatinya, dalam benaknya bersuka, karena memang kondisi seperti inilah yang ia harapkannya.
"Ya alhamdulillahlah mas, kalo pas panas seperti ini yang saya harapkan, karena semakin banyak pembeli yang singgah kelapak saya. Biasanya kalo panas seperti ini, kelapa muda bisa terjual 20 sampai 30 gandeng, tetapi kalo hujan seharian pembeli bisa sepi
mas, paling banyak 3 sampai 5 gandeng kelapa muda, tapi tidak apa-apa saya maklumi orang kondisinya saja seperti ini," Ujar dia.
Walaupun demikian, tetapi ia tidak pernah berputus asa untuk menjalani kehidupan meskipun banyak cobaan yang kerap kali ia dapatkan. Keinginannya yang mulia, menjadi landasan utama yang diimpi-impikan dia. "Orang tua susah tidak apa-apa yang penting anak-anak bisa sekolah tinggi, kalau bisa sekolah hingga sarjana, agar nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang baik nantinya." Harapnya.
Topik (39), Suaminya sendiri hanyalah seorang pekerja kasar, yang mengandalkan pekerjaan seadanya ataupun serabutan. Tidak mempunyai pekerjaan tetap menjadi kendala bagi suami desi, pekerjaan apa saja ia lakoni demi menghidupi keluarganya, untuk membantu desi mewujutkan mimpinya menyekolahkan kedua anak-anaknya hingga perguruan tinggi. "Suami saya kerja serabutan, apa saja dikerjakan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari." Ucap dia.
Demi keinginannya ini, ia rela menyisihkan sebagian pendapatan penjualannya ditabungkan untuk pendidikan anknya kelak. Tidak banyak yang bisa ia sisihkan hari itu, karena ia juga paham harus menyisihkan sisa pandapatannya untuk kehidupan sehari-hari.
Fajar Julianto (14) yang masih duduk dibangku kelas IX di SMP Negeri 26 Bandarlampung dan Ridho Artika (7) yang masih duduk di bangku SD Negeri Sepang Jaya Bandarlampung ini, terkadang sesekali menyempatkan waktunya, seusai pulang dari sekolah
untuk membantu Ibunya berjualan. Mereka tidak pernah malu dengan status pekerjaan yang dimiliki Ibunya. Hal ini, yang membuat semangat desi semakin kuat untuk menjalani hidup. "Kalo sehabis pulang sekolah Fajar dan Ridho membantu saya berjualan es dugan, mereka bergantian membantu saya, kadang saya merasa kasihan dengan mereka, tetapi mau bagaimana lagi, wong sudah keinginan mereka untuk mebantu saya," papar dia.
Harapan desi yang tinggi menjadi untuk menyekololahkan kedua buah hati hingga perguruan tinggi, ia tekatkan bersama suaminya, agar kelak kehidupan anak-anaknya tidak seperti desi. (Septomo)
